EMBUN PAGI
Edisi : Selasa, 7 Rajab 1443 H

Uang🪶

Uang kertas senilai seribu rupiah dan seratus ribu rupiag dibuat dari kertas yang sama lalu diedarkan oleh Bank Indonesia (BI). Mereka bersama-sama ketika dicetak, meskipun terpisah di bank, lalu beredar di masyarakat. Empat bulan kemudian, mereka bertemu secara tidak sengaja dalam dompet seorang pemuda. Mereka pun berbagi cerita. Uang seratus ribu bertanya kepada uang seribu,
“Mengapa badanmu begitu lusuh, kotor, dan berbau amis)”

Uang seribu menjawab, “Ini karena begitu aku keluar dari bank, aku langsung jatuh ke tangan orang-orang miskin”

Uang seribu pun balik bertanya kepada uang seratus ribu,
“Mengapa kamu terlihat masih saja baru, rapi, dan bersih?”

Uang seratus ribu pun menjawab, “Ini karena begitu aku keluar dari bank, aku langsung disambut oleh para perempuan cantik. Aku pun beredar di restoran mahal, di kompleks perkantoran, di pasar raya, mal bergengsi, dan hotel berbintang. Keberadaanku selalu dijaga dan jarang keluar dari dompet”

Uang seribu bertanya kembali, “Pernahkah kamu berada di tempat ibadah?”

“Belum pernah,” jawab uang sertus ribu

Uang seribu berucap kembali, “Ketahuilah bahwa walaupun aku hanya uang seribu rupiah, aku selalu berada pada seluruh tempat ibadah, serta berada pada tangan anak yatim piatu dan fakir miskin. Aku bersyukur kepada Allah sebab aku bukan dipandang sebagai sebuah nilai, melainkan sebagai sebuah manfaat.”

Allah SWT dan Rasulullah SAW melarang kita untuk merasa atau berlaku ujub (Riya) atas segala kelebihan yang kita miliki. Sesungguhnya, diatas langit masih ada langit. Tidaklah berarti segala kelebihan yang kita miliki jika hal tersebut tidak memberikan manfaat untuk orang lain.

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

Sumber : Dari Kuntum menjadi Bunga (Ibnu Basyar)
Diolah oleh : Humas SMAIT Al Huda

✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *